Tokyo beroperasi JST — Waktu Standar Jepang (UTC +9:00) sepanjang tahun. Jepang adalah salah satu dari sedikit kekuatan ekonomi besar yang tidak menerapkan waktu musim panas, yang berarti selisih waktu Tokyo dari UTC selalu konstan +9 jam, setiap hari sepanjang tahun. Prediktabilitas ini membuat Tokyo mudah untuk melakukan penjadwalan internasional: tidak ada penyesuaian musiman, tidak ada pengingat "segera maju", dan tidak ada kesenjangan sementara yang terbuka dengan negara-negara yang menerapkan DST.
Sebagai pusat keuangan terbesar di Asia dan terbesar ketiga di dunia berdasarkan kapitalisasi pasar, the Bursa Efek Tokyo (TSE) perdagangan mulai pukul 09:00 hingga 15:30 JST dengan istirahat makan siang satu jam (11:30 hingga 12:30). Saat TSE dibuka, saat itu tengah malam di London dan pukul 19.00 malam sebelumnya di New York — yang berarti sesi perdagangan Tokyo terjadi sepenuhnya di luar jam kerja Barat. Hal ini membuat Koridor Singapura–Tokyo–Sydney jendela pasar utama Asia-Pasifik.
Perbedaan waktu dari Tokyo bervariasi secara signifikan berdasarkan musim di negara-negara yang menerapkan DST. Tokyo adalah 9 jam lebih awal dari UTC, jadi: London (GMT) tertinggal 9 jam dari Tokyo pada musim dingin dan terlambat 8 jam pada BST. New York (EST) tertinggal 14 jam dari Tokyo pada musim dingin. Los Angeles (PST) terlambat 17 jam — artinya Senin pukul 09.00 di Tokyo dan pukul 16.00 pada hari Minggu di Los Angeles. Singapura dan Hong Kong (UTC +8:00) hanya tertinggal satu jam dari Tokyo, menjadikan mereka mitra bisnis utama terdekat Tokyo dalam hal penjadwalan.
Tokyo adalah ibu kota Jepang dan wilayah metropolitan terpadat di dunia, dengan sekitar 37 juta orang di wilayah metropolitan besar. Budaya bisnis kota ini sangat menjunjung tinggi ketepatan waktu — pertemuan yang dimulai tepat waktu bukan hanya merupakan norma profesional namun juga merupakan ekspektasi sosial yang tertanam kuat. Saat menjadwalkan panggilan dengan Tokyo, disarankan untuk membuat buffer untuk pengaturan koneksi, dan sangat disarankan untuk mengonfirmasi zona waktu dan status DST secara eksplisit dalam undangan kalender.
Jepang sempat bereksperimen dengan waktu musim panas selama masa pendudukan AS (1948–1951) tetapi menghapuskannya setelah mendapat tentangan dari masyarakat. Saat ini, Jepang tetap berkomitmen kuat terhadap operasi zona waktu tunggal, tanpa DST di seluruh wilayahnya.